Ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup sepanjang waktu merupakan keniscayaan yang tidak terbantahkan. Hal ini menjadi prioritas pembangunan pertanian nasional   dari   waktu   ke   waktu.   Ke   depan,   setiap   rumah   tangga   diharapkan mengoptimalisasi  sumberdaya yang dimiliki, termasuk pekarangan, dalam menyediakan pangan bagi keluarga.

Kementerian   Pertanian   menginisiasi   optimalisasi   pemanfaatan   pekarangan melalui konsep Rumah Pangan Lestari (RPL). RPL adalah rumah penduduk yang mengusahakan   pekarangan   secara   intensif   untuk   dimanfaatkan   dengan   berbagai sumberdaya  lokal secara bijaksana  yang menjamin  kesinambungan  penyediaan  bahan pangan rumah tangga yang berkualitas dan beragam. Apabila RPL dikembangkan dalam skala  luas,  berbasis  dusun  (kampung),  desa,  atau  wilayah  lain  yang  memungkinkan, penerapan prinsip Rumah Pangan Lestari (RPL) disebut Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Selain itu, KRPL juga mencakup upaya intensifikasi pemanfaatan pagar hidup, jalan  desa,  dan  fasilitas  umum  lainnya  (sekolah,  rumah  ibadah,  dan  lainnya),  lahan terbuka hijau, serta mengembangkan pengolahan dan pemasaran hasil.

 Prinsip dasar KRPL adalah: (i) pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan  dirancang  untuk  ketahanan  dan  kemandirian  pangan,  (ii)  diversifikasi  pangan berbasis  sumber  daya  lokal,  (iii)  konservasi  sumberdaya  genetik  pangan  (tanaman, ternak, ikan), dan (iv) menjaga kelestariannya melalui kebun bibit desa menuju (v) peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Program Rumah Pangan Lestari ini merupakan kegiatan yang mendorong warga untuk mengembangkan tanaman pangan maupun peternakan dan perikanan skala kecil dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah. Jadi, ini merupakan terobosan dalam menghadapi perubahan iklim melalui pemanfaatan pekarangan dalam mendukung ketersediaan serta diversifikasi pangan. Nah, seberapapun lahan pekarangan yang ada, bisa untuk hasilkan pangan dari rumah, karena untuk warga yang memiliki lahan terbatas bisa tetap menanam dengan teknik vertikultur. Awalnya model ini dibuat oleh para peneliti, kemudian diadopsi di beberapa provinsi di Indonesia. Tahun 2012 kemarin, dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun program ini sudah diadopsi oleh 11 provinsi di Indonesia. Dan karena program ini berhasil, FAO yang merupakan organisasi pangan dan pertanian dunia menyatakan minatnya untuk mengadopsi program ini.

FAO melihat konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) cocok diterapkan di negara-negara lain di dunia dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim global terhadap ketersediaan pangan rakyat di negara lain dan dunia.

Bagi kita sebagai orang Indonesia, tentu ini membahagiakan. Karya kita bisa memberikan kontribusi bagi permasalahan pangan rakyat dunia.

Konsep KRPL sejatinya bukan barang baru. Pada era Orde Baru, kita mengenal istilah apotek hidup, sebuah gerakan menanam tanaman obat-obatan di pekarangan rumah. Saat itu, tidak semua masyarakat bisa dengan mudah mengakses puskesmas ketika sakit.

Apabila pada era Presiden Soeharto jenis tanaman di pekarangan rumah yang ditanam merupakan tanaman obat-obatan, di KRPL yang dikembangkan adalah komoditas pangan seperti tanaman sayuran, buah-buahan, ternak, dan budidaya.

Tujuannya adalah membuat konsumsi pangan masyarakat lebih beragam sehingga asupan gizi lebih berimbang dan menekan pengeluaran untuk kebutuhan makan harian antara Rp 200.000 sampai Rp 800.000 per bulan. KRPL tidak hanya untuk warga pemilik pekarangan di desa, tetapi juga di kota dengan pola tanam vertikal.

Potensi lahan pekarangan di Indonesia luas, mencapai 10 juta hektar. Kalau KRPL bisa dikembangkan optimal, konsumsi beras nasional akan dengan sendirinya berkurang. Menteri Pertanian Suswono mengklaim pengurangan konsumsi beras per tahun bisa mencapai 30 persen atau lebih dari 10 juta ton.

Kita menyambut baik gagasan mengembangkan KRPL. Dengan model ini, ada harapan ketahanan dan kemandirian pangan nasional dapat tercipta mulai tingkat rumah tangga.

Namun, jika melihat sejarahnya, KRPL pada awalnya bukan merupakan program prioritas. Saat digagas, KRPL sekadar menjadi bagian dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan melalui pengurangan konsumsi beras.

Program utama pemerintah, terutama Kementerian Pertanian (Kementan), adalah meningkatkan produksi lima komoditas pangan strategis, yakni beras, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi. Belakangan Kementan kesulitan mewujudkannya karena tersandera perluasan lahan melalui pencetakan lahan baru yang tak kunjung bisa dilakukan.

Konversi lahan pertanian juga tak terbendung sampai sekarang. Di sisi lain, peningkatan produktivitas melalui sejumlah program, seperti subsidi benih dan pendampingan, juga hanya terdongkrak sedikit.

KRPL merupakan terobosan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Bagaimanapun, tanggung jawab penyediaan pangan tetap ada di pundak negara. Jangan sampai, dengan keberhasilan KRPL, kita lupa menjaga lahan pertanian kita.

Hal ini karena produksi pangan sampai kapan pun tetap membutuhkan lahan. Euforia KRPL jangan sampai membuat pemerintah abai dan lepas tangan dalam menjaga lahan baku pertanian yang terus dikonversi.

Jangan sampai kita ”terperangkap” dalam program-program jangka pendek, tetapi mengabaikan sumber daya lahan yang menjadi modal bagi ketahanan dan kemandirian pangan nasional pada masa mendatang.

Ada 6 konsep dalam Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), yaitu:
(1) Kemandirian pangan rumah tangga pada suatu kawasan,
(2) Diversifikasi pangan yang berbasis sumber daya lokal,
(3) Konservasi tanaman-tanaman pangan maupun pakan termasuk perkebunan, hortikultura untuk masa yang akan datang,
(4) Kesejahteraan petani dan masyarakat yang memanfaatkan Kawasan Rumah Pangan Lestari,
(5) Pemanfaatan kebun bibit desa agar menjamin kebutuhan masyarakat akan bibit terpenuhi, baik bibit tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, termasuk ternak, unggas, ikan dan lainnya,
(6) Antisipasi dampak perubahan iklim.

 

Share